Minggu, 13 Oktober 2019

My Review : Jakcard, MRT & Railink Soehatt


Welcome October! Punya kesempatan balik lagi ke Ibukota, saya mau berbagi cerita sedikit tentang pengalaman menaiki moda transportasi baru yang saya coba selama di Jakarta. Sebelumnya saya mau perkenalkan dulu salah satu Kartu Transportasi yang bisa digunakan untuk area Jakarta yang baru saja saya miliki, namanya Jakcard. Jakcard ini merupakan kartu prabayar yang diterbitkan oleh Bank DKI dan bisa didapatkan di kantor layanan Bank DKI atau loket masuk/ merchant2 partner yang berlogo Jackard (Alfamart/Indomaret).  Beberapa fungsi Jackard selain untuk kartu tap transportasi seperti Trans-Jakarta (busway) dan MRT,  juga bisa digunakan  untuk pembayaran jalur Toll dan tiket masuk/parkir  beberapa tempat wisata area Jakarta yakni Planetarium, Taman Margasatwa Ragunan, Monas, dan Museum Nasional (seni & keramik) serta juga bisa dipakai berbelanja di Alfamart/Indomaret area Jabodetabek. Wew cukup banyak juga ya kartu kecil ini manfaatnya, hehe..
Penampakan kartu Jackard bisa diliat disamping ini.
Kartu Jakcard Space Edition
Awal kenal Jakcard karena saya ingin melihat pertunjukan bintang di Planetarium. Dan peraturannya sekarang untuk pembelian tiket masuk harus menggunakan kartu Jackard, jadi tentu saja donk beli dulu di loketnya kemudian taraaaa.. dapet deh kartu Jackard edisi khusus ruang angkasaa… cakep yak!
Harga kartu perdana Jackard adalah 50k (isi saldo 30k). Dengan satu kartu ini, dalam sehari saya bisa menjelajah ke dua tempat eduwisata Jakarta beserta dengan transportasinya (Planetarium – Ragunan (TMR) by Transjkt),  sungguh murah meriah, dapet senangnya dan praktis.   
Beralih ke MRT (Jakarta Mass Rapid Transit/Moda Raya Terpadu), akhirnyaa… Indonesia punya MRT jugak, hehe.. disini saya  cukup excited karena ini pertama kalinya naik MRT dinegara sendiri, setelah sebelumnya nyobain di negara orang terlebih dulu, hm, rasanya gimana gituh.. anyway MRT Jakarta resmi beroperasi sejak 01 April 2019 dan saat ini masih dalam tahap pengembangan rute lainnya.
Malam2 sekitar hampir jam 10, saya dan temen2 nekat saja menjajal MRT dengan stasiun awal di Blok M BCA menuju Lebak Bulus (stasiun terakhir). Harga kartu single trip berkisar 7k-8k (jaminan 15k) bisa dibeli/ direfund pada loket stasiun utama, kartu berlaku untuk penggunaan satu minggu. Selain kartu tap dari stasiun MRT, juga bisa memakai kartu lainnya seperti Jakcard, E-money, Tapcash dan Flazz atau Brizzi.

Stasiun MRT M- BCA
Inside MRT
















Karena sudah larut, jadi kami bebas berfoto ria dilorong dalam MRT yang kosong, hihi.. overall menurut saya MRT di Indonesia hampir sama dengan MRT/kereta cepat dinegara2 lain, hanya mungkin jika ditambah beberapa fasilitas akan lebih baik. Misal, saat di Jepang, pada musim tertentu (spring/winter) baik pagi atau malam hari pemanas didalam MRT tetap dinyalakan jadi penumpang akan merasa lebih hangat saat berada didalam kereta. Lain pula ketika di Bangkok, nyebutnya Skytrain BTS (Bangkok Transit System), karena berada di area terbuka (meliputi titik pusat kota), jadi suasananya tuh lebih ramai, lebih banyak papan iklan berseliweran juga banyak pop up store/kedai camilan/ minuman, ATM, Money charger, bahkan toko kosmetik pun ada di kawasan depan stasiun, tentu itu sangat memanjakan penumpang yang lewat sembari menunggu kereta tiba.     
Terakhir, dari Jakarta menuju ke Bandara Tangerang Soehatt saya menggunakan Railink (KA Bandara)  yang berada di Stasiun KA Bandara Sudirman Baru (BNI City). Untuk memesan tiket bisa datang langsung ke stasiun atau via website resmi Railink atau aplikasi perjalanan umum (traveloka/tiket.com). Harga tiket mulai dari 70k/ person. Jangan lupa untuk yang beli online harus tiba ke stasiun minimal 30 menit sebelum jadwal keberangkatan untuk penukaran voucher/ kode pemesanan.
Pertama masuk ke stasiun baru ini, kesannya wah sekali, layaknya di Bandara, hehe.. masih mulus, bersih dan semarak. Sayangnya hal ini tidak sebanding dengan jumlah pengunjung/penumpangnnya, terkesan lebih sepi daripada pengguna Bus DAMRI. Hm masih minimnya peminat Railink ini entah karena faktor harga tiket yang agak mahal atau memang dipikir masih belum efisien jalur pengangkutannya. Padahal kalau naik kereta ini jauh lebih hemat waktu lho jika hendak langsung ke Bandara. Tapi saya yakin sih, seiring berjalannya waktu Railink pasti akan lebih dilirik penumpang jika ada peningkatan fasilitas dan akses stasiunnya diperbanyak.
Railink: stasiun BNI - Bandara
Gak kerasa 50 menit berlalu dan saya akhirnya tiba di Bandara, menyambung Railink saya langsung naik Skytrain menuju Terminal keberangkatan 1B.  
Well, sekian cuap-cuap blog hari ini, semoga bermanfaat, bisa memberikan informasi serta bayangan awal bagi kalian yang hendak mencoba MRT atau Railink. Ciao Jakarta, Salam Traveler!

Sabtu, 21 September 2019

Memahami Diri Sendiri, Learning Yourself.

Beberapa tahun ini, menjelang akhir masa usia 20-an hingga memasuki 30-an, saya akhirnya mulai banyak memahami diri sendiri. Sudah mulai belajar untuk mencoba memaafkan dan mencintai diri sendiri sepenuhnya. Sudah mulai mencoba selalu berdekatan dengan pemilik sesungguhnya Empunya diri. Sudah mulai agak santai dalam menjalani kehidupan, tidak tergesa, tidak terburu dan tidak memaksakan diri seperti dulu.
Saya kembali berpikir, apa yang membuat saya menjadi demikian? Dan sebenernya sudah sejauh mana sih saya melangkah? apa yang sudah saya lakukan untuk diri sendiri atau orang lain? Apa yang menjadi tujuan inti hidup saya? Lantas, bagaimana saya bisa mencapainya? Kemudian, apakah sudah tercapai sekarang, saat ini?

Kita flashback sebentar ke usia emas saya, usia paling produktif, masa yang paling bergairah dan bergelora sepanjang hidup.. Masa perkuliahan, dimana masa ini merupakan masa2 peralihan jiwa yang labil dan polos, menjadi jiwa pemberontak dan mulai suka mencoba hal2 baru, masa explorasi mental yang paling indah, menurut saya. Okey, jadi, sewaktu akhir semester, saya mulai menuliskan satu persatu hal2 atau tujuan yang ingin saya dapatkan. Saya membaginya pada beberapa aspek, mulai dari capaian prestasi akademik, karir pekerjaan, hoby, kehidupan rumah tangga, hingga improvement aspek agama/beribadah. Well, semuanya tertulis jelas di lembar kertas itu, mungkin ada ratusan poin-poin detailnya. Pada saat itu, saya ngerasa bangga, dan saya yakin dengan kemampuan saya bahwa saya akan bisa memenuhi semua yang saya tuliskan itu, meski saya tahu saya harus extra kerja keras dan tetap berkomitmen untuk mewujudkannya apapun yang terjadi.
But, as you know, life is never flat. Menilik lagi lembar tersebut, 10 tahun kemudian, pada detik ini, saya hanya bisa tersenyum kecil. Beberapa terpenuhi, banyaknya tidak, he, saya merasakan hasrat hidup saya waktu itu sepertinya tinggi sekali, hingga saya berani menulis hal tersebut, yang mana, jika dibanding dengan hasrat hidup saya sekarang mungkin hanya 1/3 nya saja,..aneh ya..
Hm, kenapa bisa menurun? Saya juga tidak tahu persis penyebabnya. Apakah karena faktor usia atau faktor2 lain semasa perjalanan hidup 10 tahun ini yang kemudian merubah pandangan dan prioritas saya. Dan saya yakin, setiap orang dewasa pun  juga pasti pernah mengalami hal yang sama. Saya terkadang iri dengan orang yang tetap terus berusaha mewujudkan impiannya. Mereka sungguh keren, sangat persisten dengan apa yang menjadi tujuannya, determined istilah bahasa inggris nya. Tetapi kemudian, saya berpikir lagi, jika saya hanya memikirkan keinginan sendiri, lantas bagaimana dengan orang2 yang ada disekitar saya, my first cycle? That’s another question.

Tentu, semua kejadian pasti ada hikmahnya. Saya tidak akan menjadi orang yang seperti saya sekarang jika saya tidak melewati semua kejadian dimasa lalu. Baik itu fisik maupun mental, saya sudah berevolusi, dan mungkin pun akan terus berkelanjutan. Pengalaman indah dan buruk, menjadikan saya sudah lebih baik dan cukup kuat hingga saat ini. Saya hanya akan terus berjalan, dan jika lelah datang, maka saya akan beristrahat sebentar, tetapi saya tidak akan berhenti, hingga nanti akan sampai pada sebenar-benarnya tujuan hidup diciptakan.

Sei Puting, 22 Muharram 1441 H

Rabu, 28 Agustus 2019

Menutup Kartu Kredit (28/08/2019)


27 Djulhijjah 1440 H
Setelah sekian lama saya menggunakan kartu yang penuh dengan godaan dunia ini..akhirnya saya memberanikan diri untuk menutup kartu sakti yang saya miliki. Dengan menetapkan hati agar tidak lagi terjerumus dengan pesona riba dan cicilan 0%, juga menghindari penumpukan hutang yang nantinya tidak bisa terbayarkan maka saya pun sudah membuat tekad kuat.
Tidak terlalu berat sebenarnya, hanya saja kita harus menyiapkan niat yang kuat dan benar, Karena Allah semata. Karena ingin bertakwa kepada Allah dengan menghindari dan menjauhi segala laranganNya. Termasuk berbelanja menggunakan Kartu Kredit, yang mana rentan sekali akan adanya Riba dan bukan merupakan transaksi yang dihalalkan Allah. Insya Allah, jalan atau cara atau usaha yang akan kita tempuh untuk melakukan hal tersebut pun akan diberi kemudahan oleh Allah. Entah itu dapat dari pinjaman teman atau dari rejeki lain yang tidak disangka-sangka.
Jadi untuk semua kawanku, jangan ragu dari sekarang coba segera tutup Kartu Kredit yang kalian miliki dan cobalah untuk menginvestasikan harta yang kalian miliki kepada investasi akhirat alih2 investasi lainnya, perbanyak sedekah dan infaq, zakat dikeluarkan dan banyak2 membantu kerabat keluarga yang membutuhkan. Jangan takut, Allah pasti akan memberikan yang lebih banyak dan lebih berkah tentunya. Menabung atau menyimpan harta untuk keperluan masa depan itu baik tapi berinvestasi kepada akhirat itu jauh lebih baik. Budayakan sikap sederhana dan bersahaja.
Mudah-mudahan Allah selalu menjaga kita dari perbuatan maksiat dan dari hutang yang melilit. Aamiin.

Rabu, 24 Juli 2019

Sweet Backpacker Phuket & Krabi 2018 : Part 3


Day 3 Krabi – Hong Island
The Day has come!! Yuhuuu.. hari ini (16/10) bakal basah2an… menaiki long tail boat, menderu bersama ombak laut dan langit biru. Sebelumnya kami berdua sudah reservasi untuk paket Hong Island tour di aplikasi Klook.com, kebetulan pas ada promo juga jadi lebih murce. Hehe.. padahal aslinya sama aja sih mungkin ya, tapi karena males gak mau ribet jadi yaa, langsung booking online deh. Dapet harga 950 baht untuk tour Hong Island plus kayaking belum termasuk fee masuk marine national park seharga 300 baht, jadi total 1250 baht, hm lumayan sih ya segitu uda dapet paket snorkeling + kayaking, lunch, air mineral dan buah untuk tour seharian. Start dijemput jam 09.00 pagi dari hotel dan baru naik ke boat jam 10.00, cukup lama tunggu karena kita harus tunggu peserta lain dan sebelum naik kapal kami masing2 diberikan gelang karet hijau sebagai penanda anggota tour. 
Satu kapal kami melaju cepat menuju tengah laut bersama 17 orang lainnya, menyibak samudra hijau, menjelajahi satu2 daratan kecil yang menyembul diantara perairan. Beberapa menit kemudian kami sudah tiba di penghentian pertama untuk snorkeling sebentar di muara batu karang besar. Saya sudah siapkan camera digital kecil dan henpon pake watercase, hehehe.. biar teteup bisa ngeksis bareng ikan badut. Sebelum naik kapal kami sudah diwanti2 untuk tetap menjaga keselamatan diri, berenang dengan aman menggunakan life jacket. Gak pake lama nunggu antri turun kapal, saya langsung menceburkan badan ke air, langsung nyesss bbrrr…. dingiin dan seger banget. Sayangnya, kalo di Hong Island ini, spot buat ngeliatin ikannya gak terlalu banyak, tapi tenaang tetap masih ada kok, yang cantik dan lucu2. Apalagi kalo kita bawa makanan buat mereka, bakal cepet diserbu daah sama gerombolan clown fish. 

Puas main air bareng ikan, kami lanjut ke titik penghentian selanjutnya. Kami tiba dipulau pertama bernama Laolading (Lading Island). Saat kami datang di sepanjang muara karst sudah berjejer kapal2 tour terdahulu, silih bergantian menuju spot berikutnya.  Kapal kemudian bersandar pada tepian batu karst yang menjulang, kami turun satu persatu dibantu oleh team guide. Begitu kaki menginjak pasir,,dan wwuuaaaa,,meski warnanya gak sebersih di gambar2nya mbah google tapi pasirnya beneran lembut, asik banget buat nyeker tanpa takut duri. 
Pesisir pantai nya ini kecil sih, hanya berbatas sekitar 100 meteran saja, tapi tetap tidak menghalangi para turis untuk melakukan kegiatan pantai seperti biasa, berjemur, foto2, main air pastinya. Oia, Pulau Lading ini juga merupakan salah satu spot populer/ikonik untuk bergambar bagi kaum traveler yang pernah mengunjungi Krabi. Puas membidik kamera, saatnya makan siang, tourguide menyiapkan makanan lokal yang rasanya cukup masuk dilidah kita Indonesia, menunya sejenis kare ayam, sayur tumis brokoli kentang wortel dan dengan penutup irisan buah nanas &semangka. 

Lao lading Island
Setelah kenyang dan saatnya bersiap menuju destinasi berikut, kami harus menunda sementara waktu sekitar 20 menit karena cuaca siang itu cukup ngeri, langitnya gelap, angin kencang, lalu hujan deras mulai turun disertai gelombang ombak besar membuat tour guide lantas tidak berani ambil resiko untuk lanjut berangkat. Tips buat kalian yang ingin melakukan tour island, akan lebih baik jika beberapa hari sebelumnya coba cek website cuaca untuk memperkirakan bagaimana kondisi hari yang akan dijalani pada tanggal yang ditentukan.  



Hong Lagoon
Setelah agak mereda, kami pun segera melaju ke Hong Lagoon. Laguna kecil ini merupakan spotlight kedua yang paling disukai peserta, airnya cukup dangkal saat itu tapi tetap jernih, berwarna hijau jamrud dengan alga tumbuh subur didalamnya. Pelan-pelan kapal kami masuk melalui celah kecil antara dua tebing karst agar tidak menimbulkan riak, tapi secepat itu pula semua peserta langsung mengeluarkan kameranya buat merekam keindahan alam ini.
Di Laguna Hong diberikan waktunya hanya sedikit, soalnya harus bergantian dengan kapal kapal tour lain. Tidak boleh banyak kapal bersamaan masuk agar tidak menimbulkan gelombang air dan memang area nya juga gak terlalu luas sih, cukup mampu menampung 2-3 kapal saja.
Then, Finally Yeay!!, Akhirnya! Sampai juga di destinasi terakhir sekaligus pulau utama dari tour ini, Pulau HONG. Gak tau juga sih kenapa dinamakan Hong Island, mungkin sempat tour guide nya jelasin tapi saya nya yang gak dengerin hhee, parah banget,.. contoh yang kayak bgini nih jangn ditiru ya kawan, setidaknya seorang traveler yg baik itu harus sedikit mengenal sejarah dari tempat tujuannya (maapken). Sebab kami ingin ikut tour yang tidak terlalu ramai orang namun tetap oke, jadilah kami pilih Hong Island ini. Balik lagi, Hong island. Garis pantainya lebih panjang dibanding pulau2 sebelumnya, lebih ramai turis tentunya. Banyak kalangan wisatawan family yang datang, karena areanya lebih luas dan masih aman untuk anak-anak bermain air. Ada tempat sewa kayak, peralatan renang serta rest area & makan tersedia di pulau ini. Pertama kami mengayuh kayak dulu, sebagaimana pemesanan awal, tapi karena hujan rintik dan agak berangin, jadinya cuma kami yang main saat itu. Itupun hanya sebentar, lalu saya dan teman memutuskan cukup bermain saja diperairan laut dangkal. Di Hong island oleh tour guide diberikan waktu selama 2 jam dan setelah itu berkumpul lagi untuk persiapan pulang. Beberapa foto yang saya capture di Hong Island bisa dilihat dibawah ini yaa…
Hong Island
Pada saat pulang, banyak turis yang sekapal dengan kami terkena seasick, mual2 dan akhirnya muntah. Sebenernya perut kami pun juga tidak enak sih, mungkin kebanyakan minum air laut kali yak juga goncangan kapalnya cukup keras. Tapi kami bisa menahannya dengan memejamkan mata dan mencoba tidur. Tambahan tips, usahakan setelah bermain air, minumlah air mineral sebanyak banyaknya untuk menetralisir perut dan kerongkongan. Jangan lupa bawa handuk kering dan bebauan/minyak angin untuk mengantisipasi mual yang melanda saat dikapal. Jika bisa keringkan badan dan ganti baju terlebih dulu sebelum pulang agar tubuh segar kembali sehabis seharian main dilaut.
Kami sampai kembali di hotel pukul 15.00 sore, bersih2 dan istirahat sebentar. Sore hari kami lanjut berjalan keluar menyusuri trotoar Ao nang sambil cari makan dan memesan tiket minivan untuk besok hari balik ke Phuket. Di sepanjang jalan Ao nang banyak stal2 kecil yang menjual tiket bus/minivan jurusan antarkota Thailand, dengan harga yang tetap murah dan terpercaya. ATM pun banyak berjejer disekitaran resto2 dan samping hotel, jadi jangan khawatir jika kehabisan uang tunai baht.

Lanjut ke Pasar malam Ao nang banyak pula barisan toko-toko yang menjual segala macam dagangan, mulai dari makanan khas, pernik handmade, tas-tas, baju, hingga cover passport custom. Kami memesan custom covers passport seharga 100 baht (nama+ornamen) sambil menjelajah resto halal yang pas masakannya diperut. Di krabi ini mayoritas masyarakatnya muslim, jadi tidak kesusahan dalam mencari restoran atau jajanan halal. Sehabis makan, saatnya belanja oleh2, saya sih kepincut dengan buku tulis kosong dengan cover buku berpola khas Thailand yang cantik2, harga sebuah buku 100 baht, fix price. Juga sempat membeli baju oblong buat fam dirumah. Oya, tipsnya, saat membeli barang sebisa mungkin tawarlah harga yang dikasih oleh penjual, tawar sebesar mungkin yang kalian bisa tapi ga perlu maksa juga sih, rata2 penjualnya ramah dan baik kok.  

Berikut postingan budget per orang yang kami keluarkan pada hari ketiga ini:
1.       Tour Hong Island +Kayak+ National Marine = 1250 baht
2.       Belanja minum+ayamgoreng+snack di sevel = 270 baht
3.       Loundry baju = 150 baht
4.       Makan resto = 150 baht
5.       Tuk –tuk =50 baht
6.       Tiket minivan Krabi – Phuket = 400 baht
7.       Cover passport custom = 100 baht
8.       Oleh2 baju dan buku tulis = 590 baht

*rate baht = 467
Total biaya hari ketiga adalah Rp 1,382,320

My Review : Jakcard, MRT & Railink Soehatt

Welcome October! Punya kesempatan balik lagi ke Ibukota, saya mau berbagi cerita sedikit tentang pengalaman menaiki moda transportasi baru...