Rabu, 24 Juli 2019

Sweet Backpacker Phuket & Krabi 2018 : Part 3


Day 3 Krabi – Hong Island
The Day has come!! Yuhuuu.. hari ini (16/10) bakal basah2an… menaiki long tail boat, menderu bersama ombak laut dan langit biru. Sebelumnya kami berdua sudah reservasi untuk paket Hong Island tour di aplikasi Klook.com, kebetulan pas ada promo juga jadi lebih murce. Hehe.. padahal aslinya sama aja sih mungkin ya, tapi karena males gak mau ribet jadi yaa, langsung booking online deh. Dapet harga 950 baht untuk tour Hong Island plus kayaking belum termasuk fee masuk marine national park seharga 300 baht, jadi total 1250 baht, hm lumayan sih ya segitu uda dapet paket snorkeling + kayaking, lunch, air mineral dan buah untuk tour seharian. Start dijemput jam 09.00 pagi dari hotel dan baru naik ke boat jam 10.00, cukup lama tunggu karena kita harus tunggu peserta lain dan sebelum naik kapal kami masing2 diberikan gelang karet hijau sebagai penanda anggota tour. 
Satu kapal kami melaju cepat menuju tengah laut bersama 17 orang lainnya, menyibak samudra hijau, menjelajahi satu2 daratan kecil yang menyembul diantara perairan. Beberapa menit kemudian kami sudah tiba di penghentian pertama untuk snorkeling sebentar di muara batu karang besar. Saya sudah siapkan camera digital kecil dan henpon pake watercase, hehehe.. biar teteup bisa ngeksis bareng ikan badut. Sebelum naik kapal kami sudah diwanti2 untuk tetap menjaga keselamatan diri, berenang dengan aman menggunakan life jacket. Gak pake lama nunggu antri turun kapal, saya langsung menceburkan badan ke air, langsung nyesss bbrrr…. dingiin dan seger banget. Sayangnya, kalo di Hong Island ini, spot buat ngeliatin ikannya gak terlalu banyak, tapi tenaang tetap masih ada kok, yang cantik dan lucu2. Apalagi kalo kita bawa makanan buat mereka, bakal cepet diserbu daah sama gerombolan clown fish. 

Puas main air bareng ikan, kami lanjut ke titik penghentian selanjutnya. Kami tiba dipulau pertama bernama Laolading (Lading Island). Saat kami datang di sepanjang muara karst sudah berjejer kapal2 tour terdahulu, silih bergantian menuju spot berikutnya.  Kapal kemudian bersandar pada tepian batu karst yang menjulang, kami turun satu persatu dibantu oleh team guide. Begitu kaki menginjak pasir,,dan wwuuaaaa,,meski warnanya gak sebersih di gambar2nya mbah google tapi pasirnya beneran lembut, asik banget buat nyeker tanpa takut duri. 
Pesisir pantai nya ini kecil sih, hanya berbatas sekitar 100 meteran saja, tapi tetap tidak menghalangi para turis untuk melakukan kegiatan pantai seperti biasa, berjemur, foto2, main air pastinya. Oia, Pulau Lading ini juga merupakan salah satu spot populer/ikonik untuk bergambar bagi kaum traveler yang pernah mengunjungi Krabi. Puas membidik kamera, saatnya makan siang, tourguide menyiapkan makanan lokal yang rasanya cukup masuk dilidah kita Indonesia, menunya sejenis kare ayam, sayur tumis brokoli kentang wortel dan dengan penutup irisan buah nanas &semangka. 

Lao lading Island
Setelah kenyang dan saatnya bersiap menuju destinasi berikut, kami harus menunda sementara waktu sekitar 20 menit karena cuaca siang itu cukup ngeri, langitnya gelap, angin kencang, lalu hujan deras mulai turun disertai gelombang ombak besar membuat tour guide lantas tidak berani ambil resiko untuk lanjut berangkat. Tips buat kalian yang ingin melakukan tour island, akan lebih baik jika beberapa hari sebelumnya coba cek website cuaca untuk memperkirakan bagaimana kondisi hari yang akan dijalani pada tanggal yang ditentukan.  



Hong Lagoon
Setelah agak mereda, kami pun segera melaju ke Hong Lagoon. Laguna kecil ini merupakan spotlight kedua yang paling disukai peserta, airnya cukup dangkal saat itu tapi tetap jernih, berwarna hijau jamrud dengan alga tumbuh subur didalamnya. Pelan-pelan kapal kami masuk melalui celah kecil antara dua tebing karst agar tidak menimbulkan riak, tapi secepat itu pula semua peserta langsung mengeluarkan kameranya buat merekam keindahan alam ini.
Di Laguna Hong diberikan waktunya hanya sedikit, soalnya harus bergantian dengan kapal kapal tour lain. Tidak boleh banyak kapal bersamaan masuk agar tidak menimbulkan gelombang air dan memang area nya juga gak terlalu luas sih, cukup mampu menampung 2-3 kapal saja.
Then, Finally Yeay!!, Akhirnya! Sampai juga di destinasi terakhir sekaligus pulau utama dari tour ini, Pulau HONG. Gak tau juga sih kenapa dinamakan Hong Island, mungkin sempat tour guide nya jelasin tapi saya nya yang gak dengerin hhee, parah banget,.. contoh yang kayak bgini nih jangn ditiru ya kawan, setidaknya seorang traveler yg baik itu harus sedikit mengenal sejarah dari tempat tujuannya (maapken). Sebab kami ingin ikut tour yang tidak terlalu ramai orang namun tetap oke, jadilah kami pilih Hong Island ini. Balik lagi, Hong island. Garis pantainya lebih panjang dibanding pulau2 sebelumnya, lebih ramai turis tentunya. Banyak kalangan wisatawan family yang datang, karena areanya lebih luas dan masih aman untuk anak-anak bermain air. Ada tempat sewa kayak, peralatan renang serta rest area & makan tersedia di pulau ini. Pertama kami mengayuh kayak dulu, sebagaimana pemesanan awal, tapi karena hujan rintik dan agak berangin, jadinya cuma kami yang main saat itu. Itupun hanya sebentar, lalu saya dan teman memutuskan cukup bermain saja diperairan laut dangkal. Di Hong island oleh tour guide diberikan waktu selama 2 jam dan setelah itu berkumpul lagi untuk persiapan pulang. Beberapa foto yang saya capture di Hong Island bisa dilihat dibawah ini yaa…
Hong Island
Pada saat pulang, banyak turis yang sekapal dengan kami terkena seasick, mual2 dan akhirnya muntah. Sebenernya perut kami pun juga tidak enak sih, mungkin kebanyakan minum air laut kali yak juga goncangan kapalnya cukup keras. Tapi kami bisa menahannya dengan memejamkan mata dan mencoba tidur. Tambahan tips, usahakan setelah bermain air, minumlah air mineral sebanyak banyaknya untuk menetralisir perut dan kerongkongan. Jangan lupa bawa handuk kering dan bebauan/minyak angin untuk mengantisipasi mual yang melanda saat dikapal. Jika bisa keringkan badan dan ganti baju terlebih dulu sebelum pulang agar tubuh segar kembali sehabis seharian main dilaut.
Kami sampai kembali di hotel pukul 15.00 sore, bersih2 dan istirahat sebentar. Sore hari kami lanjut berjalan keluar menyusuri trotoar Ao nang sambil cari makan dan memesan tiket minivan untuk besok hari balik ke Phuket. Di sepanjang jalan Ao nang banyak stal2 kecil yang menjual tiket bus/minivan jurusan antarkota Thailand, dengan harga yang tetap murah dan terpercaya. ATM pun banyak berjejer disekitaran resto2 dan samping hotel, jadi jangan khawatir jika kehabisan uang tunai baht.

Lanjut ke Pasar malam Ao nang banyak pula barisan toko-toko yang menjual segala macam dagangan, mulai dari makanan khas, pernik handmade, tas-tas, baju, hingga cover passport custom. Kami memesan custom covers passport seharga 100 baht (nama+ornamen) sambil menjelajah resto halal yang pas masakannya diperut. Di krabi ini mayoritas masyarakatnya muslim, jadi tidak kesusahan dalam mencari restoran atau jajanan halal. Sehabis makan, saatnya belanja oleh2, saya sih kepincut dengan buku tulis kosong dengan cover buku berpola khas Thailand yang cantik2, harga sebuah buku 100 baht, fix price. Juga sempat membeli baju oblong buat fam dirumah. Oya, tipsnya, saat membeli barang sebisa mungkin tawarlah harga yang dikasih oleh penjual, tawar sebesar mungkin yang kalian bisa tapi ga perlu maksa juga sih, rata2 penjualnya ramah dan baik kok.  

Berikut postingan budget per orang yang kami keluarkan pada hari ketiga ini:
1.       Tour Hong Island +Kayak+ National Marine = 1250 baht
2.       Belanja minum+ayamgoreng+snack di sevel = 270 baht
3.       Loundry baju = 150 baht
4.       Makan resto = 150 baht
5.       Tuk –tuk =50 baht
6.       Tiket minivan Krabi – Phuket = 400 baht
7.       Cover passport custom = 100 baht
8.       Oleh2 baju dan buku tulis = 590 baht

*rate baht = 467
Total biaya hari ketiga adalah Rp 1,382,320

Jumat, 14 Juni 2019

Leaning on Someone Shoulder In Japan

Hanami di Jepang

Hehehe.. enak kali ya ketika kita uda ngerasa ngantuk banget karena capek seharian jalan kaki, atau kekenyangan karena baru makan, kita bisa langsung menemukan tempat sandaran yang nyaman buat memejamkan mata sejenak sementara dalam perjalanan kereta.
Ini saya alami waktu trip saya ke Jepang spring 2016 lalu, saat itu karena harus mengejar penerbangan pagi jam 10 menuju bandara narita (Tokyo) menuju kepulangan Jakarta.
Berangkat pagi2 sekali jam 4.45 dari hostel saya sudah harus bersiap ke stasiun Tokyo menuju bandara, karena kereta pertama adalah jam 05.00. sambil menarik koper masuk ke kereta, saya langsung menuju deretan kursi kosong paling ujung pertama yang saya lihat. Sambil memperkirakan waktu tempuh, saya abaikan kondisi sekitar dan langsung memejamkan mata. Menuruti rasa kantuk yang tak tertahan.
Saat itu saya benar2 lelap meski cuma sebentar, saya terbangun karena suara pengumuman stasiun penghentian. Sesadarnya saya, eh sudah ada orang disamping kanan dan yang membuat malu adalah ternyata dari tadi saya bersandar dibahu nya bapak tersebut. Tapi bapaknya tidak merasa terganggu sama sekali sih, bahkan cenderung membiarkan seolah paham bahwa memang saya lagi ngantuk berat dan perlu sandaran, ecieeee bukan sandaran hati lho ya,,,,wkwk
Tapi emang dasar yang namanya kantuk, obat paling mujarabnya adalah tidur. Setelah sadar saya nyender sama orang, duduk tegak, 5menit kemudian, eh merem lagi ni mata,,.setdah alamat oleng kesamping lagi haluan kepala. Dan kali ini korbannya adalah anak sekolahan (SMA kayaknya) yang gantengnya MasyaAllah (jdi ngebatin), tinggi, putih, berseragam, cakep, asli karakternya mirip anime di komik2 ituh, antara Alhamdulillah dan Astagfirullah dalem hati, saya kembali malu mesem2.
Sampel anak SMA Jepang. diambil candid tanpa sepengetahuan ybs.
Habis kejadian itu saya bener2 mencoba untuk gak ngantuk, apapun saya lakukan, nyubit pipi, tangan, goyang2 kaki, makan permen..duh, tersiksa tapi mau gimana dund.. tapi bentar lagi juga saya harus turun di stasiun Intercourse yang benar buat ganti jalur ke bandaranya.
Pada dasarnya di jepang itu sendiri terdapat istilah yang dinamakan Inemuri. Inemuri ini adalah tradisi dimana orang2 jepang (khususnya para pekerja) akan menyempatkan diri untuk tidur sejenak di sela2 kesibukan mereka, tidak perduli tempat manapun, kapanpun dan dengan gaya apapun. Jadi Inemuri ini sekarang memang sudah mulai tren dan diterapkan oleh pemerintah jepang bagi warganya untuk mengurangi kasus kematian akibat kelelahan bekerja. Wah, berat juga ya ternyata hidup dijepang, sampai segitunya.. sebab itu, mereka bisa memaklumi jika ada yang tertidur dan tanpa sadar bersandar dibahu orang lain ketika di kereta dan mereka menghormati dengan tidak membangunkan orang tersebut.
Saya jadi inget salah satu kalimat dalam drama korea yang saya tonton, bahwa “memberikan roti bagi orang yang lapar ataupun meminjamkan bahu sebagai sandaran bagi orang yang mengantuk adalah salah satu prinsip hidup yang patut dilaksanakan”.
Begitu juga dalam ajaran Islam sebagaimana diriwayatkan, bahwa seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah Saw., ‘Perbuatan apa yang terbaik di dalam agama Islam?’ Maka Rasul menjawab, ‘Yaitu kamu memberi makan kepada orang lain, dan kamu mengucapkan salam kepada orang yang kamu kenal dan yang tidak kamu kenal’. (HR Bukhari, Muslim) - (repost http://www.embunhati.com)
Kesimpulan cerita ini yakni sebaiknya tentu kita harus tetap menjaga sikap (punya attitude/manner) saat menggunakan transportasi umum, tidak hanya dijepang, di Negara manapun bahkan di Indonesia sendiri. Tidak boleh egois dan mesti bisa berbagi dengan orang lain. Sebab bagaimana cara kita memperlakukan orang lain merupakan cerminan dari hati dan kepribadian kita.

Ciao, Salam Traveling.

Kamis, 16 Mei 2019

Virus Pinkies Merah Jambu


Kyaaaaa…. Aku naksir orang!!! Huhuhu.. what should I do then? Of course, di usia segini emang udah sepantesnya sih buat nimang anak, bukan lagi jatuh cinta sejatuhnya seperti anak monyet, dan yang lebih baiknya tentu jika bagi perempuan itu adalah yang dijatuh cintai…  hmm.
But anyway, well well, life is more complicated than you think, life is not made by what you want, life is just….  but obviously you can make it a lot of easier by doing something good and be more grateful. However, when love shines around the air you breathe, you can still enjoy the moment now and yet remain calm (aposeh)
Falling in love is the modest time, feelin I ever take. We should appreciate its present but be careful to being drag away.. Ada baanyak pertimbangan dan kelakuan konyol yang dilakukan ketika virus merah jambu ini melanda.. mulai dari kepoin SNS si doi, tanya sana sini cari informasi ttg doi, sok caper ke doi, and every little simple things about doi, you do it all.   
Sebenernya aku senang dengan perasan ini tapi aku juga berharap bahwa aku masih cukup waras dalam membedakan mana yang patut diperjuangkan, mana yang layak dipertahankan atau mana yang cukup disimpan dihati saja.
Teruntuk kamu yang telah berhasil mencuri perhatianku saat ini, aku ucapkan selamat. Semoga apapun yang telah kau hilangkan dariku (waktu, perhatian, pikiran, perasaan), biar Allah ampuni dan gantikan dengan yang lebih baik. Jikalaupun tidak dalam bentuk yang aku harapkan, maka akan aku ikhlaskan, karena aku yakin, bahwa semua dan segala sesuatunya itu telah diatur, jauh2 waktu sebelum bumi diciptakan, jadi tidak akan ada yang tertukar, akan datang tepat pada waktunya dan pas takarannya. 

With love’ (sunyi dan dalam kegabutan)

Sabtu, 20 April 2019

Jalan Sebentar Di Jakarta (Bagian 2)

Malam itu saya tidur pulas. Hari Minggu ini (24/02) saya harus balik ke Pulau Kalimantan dengan jadwal penerbangan sore. Masih ada waktu pagi ke siang untuk jalan lagi. Jam menunjukkan pukul 08.30, saya beranjak dari kasur keluar dorm menuju resepsionis hostel menuruni tangga dari lantai 3, kemudian sarapan roti gula mentega &buah sekalian check out serta menitipkan koper hingga nanti siang akan diambil kembali.
Hm, sambil menyeruput teh manis saat sarapan, saya jadi teringat potongan adegan film “Ada apa dengan Cinta” yang dulu pernah hits tahun 2002an (hayoo yang ngaku masih smp waktu itu, berarti kita seumuran) dimana Rangga & Cinta ngedate untuk pertama kali ke pasar buku bekas, iya! Pasar buku Kwitang namanya. Siip dah, next stop has been set.
Seperti biasa, nge grab bike jadi andalan saya kalo lagi di Kota besar. Enak ya serba online sekarang, tinggal ketik dua jempol aja abang ojek uda nyamperin didepan hostel. Tarik bang, anterin saya ke Pasar Buku Loak, mana tau saya ketemu Rangga saya disana, ihiiy, ettdaah hehehe...
Hari hampir jam 10, saya ngerasain hal yang beda pas tiba di area buku bekas Kwitang. Sepertinya info di internet bener, suasananya cukup sepi, jauh dari suasana yang digambarkan dulu (gak kayak di film). Cuma beberapa saja yang masih ngemper stall di trotoar, jejeran toko2 nya pun belum banyak yang buka. Saya langsung masuk ke salah satu toko, cukup besar dan agak ramai pengunjungnya. ‘Mau cari buku apa mba? judulnya? Lihat2 aja dulu, tuh untuk novel2 ada dipojokan”,, begitu sapaan hangat dari bapak penjualnya. 
Awalnya saya mau cari buku2 agama, eh kok malah nyasar ke deretan novel - novel lama, hm… beruntung gak lurus ke selasarnya komik, ckck. Didepan tumpukan buku yang tingginya 2x lipat badan saya itu, pada 5 detik pertama saya mulai menyaring semua judul dari barisan novel sastra Indonesia, kemudian barulah menjelajah satu persatu untuk menemukan yang benar2 menarik hati. Yeap, dengan banyak pertimbangan dan godaan akhirnya terpilihlah 4 buku lawas terkumpul ditangan. Siti Nurbaya, Azab dan Sengsara, Merantau Ke Deli serta Sengsara  Membawa Nikmat, merupakan mahakarya klasik Negeri yang dulu pernah saya baca waktu diperpustakaan sekolah, dan kali ini saya pengen punya buat tambahan dirumah.  Ah, ada satu lagi novel jadul, novel barat (sudah alih bahasa) yang pas SD saya inget banget pernah baca buku koleksi Alm Bokap, judulnya Petualangan Tom Sawyer karya Mark Twain. Wuaa asyik banget buku itu, menceritakan tentang tokoh Tom Sawyer bersama dengan kawanannya dan si Gelandangan Huckleberry Finn, mereka belajar, bermain dan berpetualang dengan gaya khas kenakalan anak anak serta rasa ingin tahunya yang tinggi, mereka lantas menjelajah bukit, hutan, sungai dan gua yang berada disebuah pedesaan kecil Amerika. Hm, sayangnya buku ini uda lama gak terbit, jadi agak susah nyari nya.
Selesai beli buku, saya langsung bersiap balik ke hostel untuk ambil koper. Kemudian langsung menuju stasiun gambir karena mau ke bandara SoeHatt nya pakai bus Damri, harga 40,000 one way. Saya cukup seneng, meski cuma sebentar dan sendirian setidaknya bisa sedikit mengelilingi Jakarta, pertama kali naik bus Transjakarta, menggunakan KRL ke Kota Tua, berburu buku di Pasar Kwitang, dan nonton bioskop di 21 Planetarium. 

Jumat, 01 Maret 2019

Jalan Sebentar di Jakarta




Halooo.. ini postingan pertama di tahun 2019, yeay! Cerita sedikit ya, kemarin setelah ngikut Pelatihan dari Kantor, kebetulan ada waktu luang sabtu minggu sebelum balik Kalimantan, jadi jalan2 dulu deh muterin Jakarta. Hari sabtu itu rencananya mau nonton pertunjukan luar angkasa di Planetarium TIM, eh tapii ternyata dari tanggal 23 – 27 mereka ada kegiatan renovasi, deuh batal akhirnya… hiks, padahal uda dibuat plan mulai dari kapan hari...

But its fine, lanjut ke rute kedua saja. Sambil merungut karena ga bisa nonton, saya langsung pesen grab bike menuju Kota Tua. Menyelusuri trotoar Kota Tua pagi2 sambil menghirup segarnya udara tanpa polusi memang bikin hati adem. Sayangnya hal itu tidak berbanding lurus dengan kondisi lensa kamera henpon saya yang lagi error (suka blur gtu, derita produk AS*S), beuh sebel banget. Kan sayang atuh, pas suasana lagi sepi, hening, gak ramai orang, asri kayak gitu gak bisa di capture. Hampir sejam saya bergulat utak atik setting kamera ini henpon, digoyang2, reset, shutdown, kemudian hidupkan lagi, berulang kali. Tetap gak bisa, I’m give up (temporary).
Sambil duduk di bebatuan pinggir museum saya putuskan, biarlah pemandangan cantik ini biar mata indah saya saja yang merekamnya, “I am just happy as well as I can see’ tsah, mmuehehe..  

Sudah puas mengitari area museum Fatahillah yang berbentuk kotak, foto2 sebentar (Alhamdulillah kameranya uda sehat), saya meneruskan langkah menuju Pelabuhan Sunda Kelapa. Kalo dari google map jaraknya sih sekitar 2,3 km dari tempat berdirinya kaki, okey, saya yang pemalas memilih mikrolet sebagai alat bantu teleportasi. Dari Kota Tua kesana naik Mikrolet warna biru muda nomer M15 dgn biaya tiga ribu perak. Sukses duduk tepat dibelakang abang supir, tinggal sebut tujuan, bayar dan beres.
Nah, pas lagi asik2nya liat sleweran kendaraan, angin sepoi pula menerpa jilbab, eh alah abangnya kelupaan nurunin saya. Apes, jadi gmana nih neng? Mau putar balik juga nanggung, diturunin disini aja ato ikut muter dulu, ngetem tapi??, ya udah deh pak, saya ngikut ajah.. (dalem hati, kapan lagi bisa keliling Jakarta murah meriah bgini, no time deadline anyway,.. hantu medit itu merasuk). Selama perjalanan di Mikrolet, banyak hal yang bikin saya merenung. Oh, jadi begini ya tinggal di kota gede, semua ada... fasilitas lengkap, bangunannya bagus, rumahnya gedongan, jalanan ramai, tpi gak seluruh penghuninya bisa hidup nyaman. Dan itu bisa diliat sekilas dari ragam para pengguna transport umum yang keluar masuk mikrolet ini. No offense or judging but somehow you could sense them through their way of gazed to outside inside (psych talk here).       
Walhasil, saya nyampe juga didepan pintu utama Pelabuhan Sunda Kelapa. Sejarahnya merupakan pelabuhan tertua di daratan Batavia dan telah beroperasi dari jaman kerajaan Tarumanegara baheula, wew amazing. Saya jalan masuk, clingak clinguk melihat deretan kapal yang berjejer, gak bisa terlalu dekat ambil gambarnya karena truck dan mobil lalu lalang. 10 menit kemudian, saya langsung balik lagi ngeloyor keluar gerbang pelabuhan. Hah, demi apa coba?? setelah hampir duduk 2jam keliling kota pake mikrolet, stay 10menit dsitu trus langsung cabut cuma karena mau foto doang?! ‘God, ternyata saya masih terdistorsi dan terjajah oleh jiwa narsistik sosial saya, sungguh ini kacau!

Matahari sudah terik, panas dan udara mulai bercampur debu. Saya mesti balik ke Hotel untuk pindah ke Hostel. Yup, ini backpacker ceritanya, kebetulan nemu diBooking.com namanya Old Capsule Batavia Jakarta, recommended deh. Semalam saya cuma bayar 99rb, dapet handuk dan sarapan gratis, stafnya ramah banget, lokasi deket degn warung makan dan pusat kota (red,cikini). Saya sempat kenalan dgn temen se dorm, bule muda cantik asal Belanda yang dia solo traveler udah 2bulan keliling asia tenggara dan bakal menjelajah Indonesia 2minggu, wuaaa… she slay me out!     
Petang jelang malam hari, stelah ngecharge hape dan body, saya lanjutkan joka-jokanya. Kali ini mau menyaksikan air mancur menari ala Monas. Pas malam minggu nih, bakal rame pasti. Iya bener ternyata rame. Banyak pelancong &keluarga yang datang, bersamaan juga dengn guyuran air dari langit yang turun, suasananya meriah sekaligus mendebarkan (Red, karena kilat& gunturnya juga ikutan main). Saya terkalahkan oleh hujan, salah posisi berteduh tersudut saya di tiang atap tempat tunggu kereta wisata.  Ah, ingin sekali merengek.  
Hujan mereda, meski masih gerimis. Saya pamit kepada kelap kelipnya Tugu Monas, malam itu saya membawa pulang hati yang terisak lirih. Bukan karena gagal liat air mancur menarinya, tapi karena saya terprovokasi oleh gaya keromantisan monyet dari sepasang sejoli muda yang duduk persis dihadapn saya sambil menunggu hujan berhenti. Apa sih maunya mereka, saya tau saya masih sendiri tapi saya juga berhak numpang tinggal diplanet ini. Huh.(to be continued)




One Day Trip Nara

Kali ini cerita tentang Nara City, kota kecil cantik di area Kansai yang bisa dijelajahi satu hari dari Osaka atau Kyoto. Kota yang menjad...