Minggu, 23 Agustus 2020

Short Trip ke Pantai Teluk Tamiang & Tanjung Kunyit – Kotabaru (Kalimantan Selatan)

Hai hai welcome back to my random blog everyone! Yeay, setelah lama syekalii tidak menulis apapun hingga saat ini dan akhirnyaa.. ada juga bahan cerita yang aku mau share ka kalian semuaa.. Ini sih trip aku with my lovely genks ke pantai dan pulau kecil di Kotabaru yang pemandangannya bagus banget dengan pasir putih dan air nya yang biru sebening kristal..

Perjalanan ke Pantai Teluk Tamiang & Tanjung Kunyit dimulai dari kota Batulicin naik motor menuju Pelabuhan Tanjung Serdang Kotabaru. Kemudian naik Ferry selama kurleb 1 jam dan kita pun uda sampe di Pelabuhan utama Kotabaru ini. Lanjut meneruskan perjalanan ke Pantai Teluk Tamiang dengan arah jalan menuju Kecamatan Lontar selama 3 jam, melewati sebagian jalan beraspal, jalan berbatu, juga penuh debu dengan tepian jalan adalah pesisir Pantai dan Kawasan perbukitan kecil. Beberapa kali kita singgah di area kampung untuk sekedar melepas lelah dan meredam rasa pantat yang panas kerna kelamaan duduk di motor, fiuh capeknya😓😂. 

Tiba di Pantai Teluk Tamiang, kita langsung menuju area parkir untuk menginapkan motor selama semalam karena kami rencana akan menyebrang pulau sore harinya menuju Tanjung Kunyit.Siang itu, pukul 12.00 wita, kami mengisi perut dahulu sebelum melakukan eksplorasi area Pantai. Kebetulan di area Pantai Teluk Tamiang ini merupakan area wisata yang baru dibuka oleh pemerintah setempat namun masih belum terlalu ramai. Sudah ada beberapa plakat untuk tempat menginap bagi wisatawan yang datang. Untuk makan, banyak warung kecil yang buka disepanjang jalan setapak menuju Pantai. Masyarakatnya rerata adalah dari suku bugis transmigran yang sudah tinggal lama di daerah tersebut, dengan mata pencaharian sebagian besar nelayan, petani dan berdagang pangan/logistik. Ohya karena kami pergi pada saat masih dalam kondisi new normal covid, pada Kawasan ini juga banyak terdapat spanduk-reklame untuk protokol Kesehatan, tetapi pada kenyataannya masih banyak masyarakat yang gak pake masker.. meski demikian sabun cuci tangan dan air mengalir selalu tersedia di tempat2 umum, memudahkan orang-orang untuk tetap menjaga kebersihan.

Di foto ini kalian bisa lihat ada jembatan kayu panjang sebagai tempat kapal bersandar dan penumpang naik-turun kapal, bisa dilihat juga betapa segar air lautnya… kita bisa ngeliat langsung ikan2 pada berenang lhoo.. cantik nian bukaan…!!💜💜💙😍


Eksplorasi Pantai Teluk Tamiang diawali dengan berfoto ria di sekitaran bibir pantai yang ada bebatuannya. Hari itu cukup terik, jadi kami pun tidak betah terlalu lama menantang matahari. Usai puas berkodak, kami langsung menyamperi rumah Kepala Desa yang sekaligus merupakan satu-satunya tempat sewa snorkling di area laut Teluk Tamiang. Harga sewa alat snorkling lengkap per org 50k, kemudian ditambah sewa perahu snorkling pp 200k. 

Karena kami berempat juga mau sekalian menuju Tanjung kunyit, jadi setelah snorkling kami akan langsung diantarkan kesana. Fyi jika kalian tidak snorkling dan ingin langsung menyebrang ke Tanjung Kunyit biasanya biaya perkapal adalah 150k sekali jalan.


Yeaay..!! akhirnya siang hari itu pun kami langsung bisa nyebur laut.. cihuuyy.. bahagianyaaa… setelah lama syekalii tidak menyentuh air laut akhirnyaa bisa main sepuasnyaa… aku yang excited dari seminggu sebelumnya sudah tidak sabar langsung meloncat dari kapal begitu tiba di spot snorkling Teluk Tamiang. Airnya sih tidak begitu dalam karena ada banyak karang tebal yang tumbuh kuat didasar laut dangkal. Satu hal yang cukup membuat kagum dari spot snorkling disini adalah pemeliharaan ekosistem tumbuhan terumbunya yang masih sangat alami, banyak/luas dan indah. Sebagian besar berwarna hijau dan putih, sayangnya diarea ini tidak banyak anemone laut yang terlihat namun tetap ada beberapa ikan kecil yang berseliweran kesana kemari, ada yang warnanya biru mirip karakter Dory di film Finding Dory/Finding Nemo… hehe lucu, imut, cantik, bikin pengen nangkep ^-^😍😘

Hampir 1 jam lamanya kami berendam dalam air asin, kulit sudah kian mengkerut dan badan gemetran karna kedinginan lalu kami putuskan untuk menyudahi snorkling dan lanjut menuju Tanjung Kunyit.

Tanjung Kunyit merupakan sebuah desa yang terletak di Kecamatan Pulau Laut Tanjung Selayar. Letaknya yang berada di ujung tepi laut dan bersebrangan dengan desa lainnya mengharuskan penduduk lokal menggunakan kapal sebagai alat transportasi utama untuk bepergian/ membeli kebutuhan logistik sehari-hari. Ketika kami tiba disana beberapa anak kecil mulai mendekati kemudian kami diberitahu oleh pemuda setempat jika ingin menginap maka bisa mendatangi rumah Pembekal Desa yang berada tidak jauh dari pinggir pantai.

Alhamdulillah, kami disambut baik oleh Ibu RT, dipersilahkan masuk dan disiapkan alas tidur di ruang tengah untuk beristirahat. Mengisi kegiatan sore dan malam hari kami berkeliling di sekitaran desa, makan jajan di warung kecil, minum kopi hangat dan menikmati semilir angin pantai sambil duduk bersama dan bersenandung manja tentunya, hehe… syahdu dan asyik sekali suasananya..😇😊

Menjelang shubuh kami bangun dan bersiap sholat juga sekaligus mulai beberes barang. Setelah itu kami bergegas keluar menyambut sunrise di pantai sambil mencari warung untuk mengisi perut yang kosong, juga memenuhi energi tubuh agar kuat mendaki bukit menuju mercusuar pagi ini.

Subhanallah, liat foto ini deh, gak ada pemandangan yang lebih mempesona selain bisa melihat langsung bagaimana matahari terbit naik secara perlahan dari atas permukaan air lauut kyaaaa..😍💙





Tepat pukul 07.15 kami start berjalan kecil menelusuri jalan setapak menanjak menuju highlight Desa Tanjung Kunyit yakni Menara Mercusuar peninggalan jaman Belanda. Sebagaimana guna mercusuar pada umumnya yakni berfungsi untuk membantu navigasi kapal dalam menentukan arah dan lokasi berlayar serta memperingatkan kapal tentang tempat berbahaya di perairan.  Menara Mercusuar Tanjung Kunyit ini salah satunya adalah mercusuar yang berada dibawah pengawasan Dikjen Perhubungan Laut Provinsi Kalimantan Selatan yang saat ini masih aktif dan dijaga dengan baik. Ditambah dengan sejarah bangunannya yang menjadi daya tarik tersendiri bagi wisawatan lokal. Perjalanan menggerakkan kaki keatas mengarah ke Menara Mercusuar memakan waktu kurang lebih 20 menit sekali jalan. Bagi kami yang tidak terbiasa melakukan pendakian inipun, merasa cukup ngos-ngosan ketika menjalaninya, meski sebenarnya medannya lumayan landai dan tidak terlalu terjal/curam.

Tiba di Menara kami bertemu dengan penjaga setempat dan memberikan sedikit retribusi sekadarnya untuk pemeliharaan. Awalnya kami berencana untuk menaiki Menara tersebut sambil berswafoto tapi begitu melihat pijakan kecil pada besi dan tiang serta menilik betapa tingginya menara membuat hati kami ciut seketika dan akhirnya mengurungkan niat. Hehe.. what a shame.. Meski demikian, kami tetap merasa sangat senang karena sudah bisa menikmati megahnya lautan Kotabaru dan birunya langit dari puncak bukit menara mercusuar. Serasa terbayar sudah tetesan keringat dan penatnya kaki saat menanjak tadi (wkwk biarin lebay dikit yak..😆)




Tepat pukul 11 menjelang siang kami menuruni bukit Mercusuar balik ke pantai. Usai berpamitan dengan pembekal dan warga sekitar, kami menyebrang kembali ke Teluk Tamiang untuk makan siang dan sholat zuhur di Masjid terdekat, harga per kapal adalah 150k. Pukul 14.00 kami sudah berkendara lagi menuju Tanjung Serdang dan naik fery dan hingga pukul 18.00 akhirnya tiba di pelabuhan Batulicin.

Walau sudah cukup sering backpackeran bareng teman tapi ini pertama kalinya buat aku untuk jalan dan berkumpul lagi dengan teman2 rekan kerja sewaktu dibatulicin dulu, sungguh seru, menyenangkan dan mungkin tidak akan bisa terlupa hingga waktu yang lama..hehe makasih ya gaes teruntuk Jupe, Farhan dan Romy, kalian bikin perjalanan ini berkesan banget.. can’t wait for our next trip 😘😆😇

Dan untuk kalian para pelancong, travel addict yang pengen jalan- jalan area Kalsel aja tapi ga tau mo kemana, pokoknya wajib deh, kudu mesti pergi ke Teluk Tamiang dan Tanjung Kunyit, gak akan nyesel karena wisatanya emang sebagus ituh, Trust Me, it works!! Hehe.. see you again, next story chapter ^-^

Salam Traveler.

 

 







Sabtu, 18 Januari 2020

BRACES, Yes or No?

Hai.. selamat bertemu lagi di tahun baru! Bicara tahun baru, berarti harus ada resolusi yang segera diluncurkan dong.. hehe tapi kali ini saya mau cerita dulu tentang penggunaan Braces ato BEHEL ato yang biasa dikenal umum dengan Kawat Gigi. 

Uuh.. aslinya ini adalah sesuatu yang baru buat saya, sedari awal saya memang gak pernah terbersit untuk memakai behel karena saya berpikir itu termasuk ke dalam tindakan tidak bersyukur atas apa yang diberikan Tuhan, dalam artian saya mencoba melakukan perubahan pada gigi saya agar dapat menghasilkan senyum yang cantik, memperlihatkan gigi yang berbaris rapi atau setidaknya akan memiliki side profile wajah/mulut yang rata (gak monyong). Bisa dibilang, dengan segala tindakan dan treatment selama pemakaian braces setahun-dua tahun, kemungkinan besar hal tersebut secara tidak langsung akan merubah struktur wajah saya.. and that’s what I want to avoid the most.. Hanya saja.. terkadang ketika desakan dari orang sekitar, bujuk rayu dan beberapa memori ejekan itu terus saja berputar-putar ditelinga saya, kemudian masuk ke kepala dan diproses secara dangkal maka menghasilkan lah keputusan yang cukup menyesalkan. 

Akhirnya saya melunak, dan saya pun menguatkan hati untuk menggunakan braces pada tanggal 14 Desember 2019 lalu, dengan harga yang tidak murah buat saya, yah bisa dikata, dengan uang segitu aslinya bisa buat backpackeran kemanapun selama seminggu deh (hmz…yeye) Tahap pertama, saya scalling gigi dulu (pembersihan karang gigi) dan konsultasi dengan dokter gigi tentang perawatan gigi dan bagaimana perbaikannya. Setelah itu saya diminta untuk rontgen panoramic untuk melihat blue print struktur gigi dan mulut. Minggu berikutnya barulah melakukan tahap pemasangan behel. Saya pilih tipe mini metal braces, behel metal yang ukurannya kecil, jadi tidak terlalu menonjol saat pemakaian juga mengurangi gesekan pada lapisan bibir dalam agar tidak sariawan. Tipe mini braces ini harganya lebih mahal sedikit dibannding dengan tipe metal standart. Oia, pemasangan behel saya lakukan di Klinik My Dentist di kota Banjarbaru. Untuk kasus saya, selain crocked teeth pada rahang bawah, saya juga termasuk yang memiliki Bimaxillary Protrusion (BP). 

Adapun Bimaxillary protrusion refers to a protrusive dentoalveolar position of maxillary and mandibular dental arches that produces a convex facial profile (googles). Bimaxillary Protrusion yakni kondisi mulut dengan karakteristik penonjolan lengkung posisi gigi seri atas dan gigi bawah sehingga menghasilkan profil wajah cembung. Mungkin kalo istilah sederhananya yakni kondisi gigi tonggos bagian atas dan bawah serta mulut terlihat penuh dan bibir sulit ditutup secara alami. Well, Pertama kita bisa pelajari sebab terjadinya BP ini agar dapat dipahami juga bagaimana pencegahan dan penanganannya. Penyebab BP termasuk didalamnya adalah dari multifactorial genetik dan lingkungan. Dilihat dari faktor genetik, sebenernya pada ras-ras tertentu seperti Afrika dan Asia, memang terdapat faktor keturunan dari struktur rahang yang demikian. Adapun dari faktor lingkungan terjadi karena seperti kebiasaan buruk bernafas melalui mulut, posisi lidah yang salah dan gerakan bibir yang salah serta besaran volume lidah, akhirnya terbentuk malposisi antara bibir bawah dan bibir atas. Sebenarnya pula hal ini termasuk dalam masalah estetik, dimana sering terdapat anggapan/persepsi negatif yang muncul karena kondisi menonjolnya gigi (kontruksi wajah samping terlihat jelek). 

Setelah 2 bulan pemakaian, saya merasa gak nyaman, seperti ada sesuatu yang terus menggelitik dihati. Sebelum saya membuat keputusan melanjutkan proses pencabutan 4 buah gigi untuk merenggangkan (membuat space) pada area gusi yang kecil. Saya kemudian mencari banyak informasi tentang berbagai jenis behel, dampak dari pencabutan gigi karena behel, seberapa lama proses perapihan gigi serta apa yang akan terjadi/ harus dilakukan setelah pemakaian behel. 

 Hingga pada suatu hari saya menemukan video yang berasal dari seorang mufti/ ahli agama dari negara arab (lupa negaranya), beliau menjelaskan hadist Nabi Saw terkait pemakaian behel ini. Bahwasanya suatu tindakan dikenai hukum sesuai dengan niat seseorang. Bilamana seseorang menggunakan Braces dengan niat ingin menambah kecantikan diri, agar rapi dan indah dipandang, tanpa ada uzur medis lainnya, maka hal ini sudah pasti diharamkan. Sebagaimana pula telah diperingatkan didalam Al Quran untuk bahwa manusia dilarang merubah ciptaan Allah (Qs An-Nisa : 117-119). Berkaitan dengan ini, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Allah melaknat wanita-wanita yang membuat tato dan yang minta dibuatkan tato, yang mencukur alis dan yang merenggangkan gigi untuk kecantikan, yang mereka itu mengubah-ubah ciptaan Allah”.(HR Muslim) 

Naah, sejak saat itu pula saya bertekad dalam hati untuk segera melepas behel ini, meskipun secara sadar sudah akan menyiakan uang jutaan rupiah yang sudh dikeluarkan, anyway saya yakin saja Insya Allah nanti pasti ada rejeki yang lain. Then, minggu depannya pas cuti kerja saya langsung segera janjian dengn dokter giginya untuk lepas behel, reaksi dokternya sih rada sangsi yaa, ini yakin mau dilepas? Gak sayang mbak? Dan saya pun mengangguk pasti, sambil bilang “silahkan dilanjut dok proses pelepasannya, dan behelnya boleh dibuang saja”. 

Well gaes, tulisan saya ini sesungguhnya tidak berniat untuk menyinggung orang-orang yang sudah/sedang menggunakan behel ya, hanya saja ini berdasarkan keyakinan dan perspektif pribadi. Penggunaan braces memang pada dasarnya sudah popular dikalangan anak-anak dan dewasa untuk kepentingan estetik, sedang menurut hukum Islam pun juga masih terdapat perbedaan pendapat dari kalangan Ulama mengenai hal ini. Jadi no offense, tinggal bagaimana kita sendiri menyikapinya secara pengetahuan dan keyakinan yang di pilih. 

Setelah melepas behel, hati saya jadi lega, dan mencoba kembali mereset pikiran bahwasanya manusia itu sudah diciptakan Allah dengan sebaik-baiknya bentuk, sempurna dengan fungsi2nya masing-masing. Hanya seringnya, kita nih yang kurang bersyukur atas apa yang sudah dimiliki. Kita harus percaya bahwa kita sebagai Wanita itu sangat berharga dan punya keunikan sendiri terlepas dari penilaian/pandangan dunia atas standar kecantikan yang sangat relatif dan bisa berubah-ubah. Kita masih mampu mengembangkan karakter dan meningkatkan kemampuan kita untuk bisa menjalani hidup dengan lebih sabar dan tenang. So just stay calm dear, Allah with us! also, I know, tanpa braces pun, saya masih bisa memberikan senyum terbaik saya untuk orang2 yang saya sayang dan yang menyayangi saya ^-^

Salam Traveler, Salam Sehat

Minggu, 13 Oktober 2019

My Review : Jakcard, MRT & Railink Soehatt


Welcome October! Punya kesempatan balik lagi ke Ibukota, saya mau berbagi cerita sedikit tentang pengalaman menaiki moda transportasi baru yang saya coba selama di Jakarta. Sebelumnya saya mau perkenalkan dulu salah satu Kartu Transportasi yang bisa digunakan untuk area Jakarta yang baru saja saya miliki, namanya Jakcard. Jakcard ini merupakan kartu prabayar yang diterbitkan oleh Bank DKI dan bisa didapatkan di kantor layanan Bank DKI atau loket masuk/ merchant2 partner yang berlogo Jackard (Alfamart/Indomaret).  Beberapa fungsi Jackard selain untuk kartu tap transportasi seperti Trans-Jakarta (busway) dan MRT,  juga bisa digunakan  untuk pembayaran jalur Toll dan tiket masuk/parkir  beberapa tempat wisata area Jakarta yakni Planetarium, Taman Margasatwa Ragunan, Monas, dan Museum Nasional (seni & keramik) serta juga bisa dipakai berbelanja di Alfamart/Indomaret area Jabodetabek. Wew cukup banyak juga ya kartu kecil ini manfaatnya, hehe..
Penampakan kartu Jackard bisa diliat disamping ini.
Kartu Jakcard Space Edition
Awal kenal Jakcard karena saya ingin melihat pertunjukan bintang di Planetarium. Dan peraturannya sekarang untuk pembelian tiket masuk harus menggunakan kartu Jackard, jadi tentu saja donk beli dulu di loketnya kemudian taraaaa.. dapet deh kartu Jackard edisi khusus ruang angkasaa… cakep yak!
Harga kartu perdana Jackard adalah 50k (isi saldo 30k). Dengan satu kartu ini, dalam sehari saya bisa menjelajah ke dua tempat eduwisata Jakarta beserta dengan transportasinya (Planetarium – Ragunan (TMR) by Transjkt),  sungguh murah meriah, dapet senangnya dan praktis.   
Beralih ke MRT (Jakarta Mass Rapid Transit/Moda Raya Terpadu), akhirnyaa… Indonesia punya MRT jugak, hehe.. disini saya  cukup excited karena ini pertama kalinya naik MRT dinegara sendiri, setelah sebelumnya nyobain di negara orang terlebih dulu, hm, rasanya gimana gituh.. anyway MRT Jakarta resmi beroperasi sejak 01 April 2019 dan saat ini masih dalam tahap pengembangan rute lainnya.
Malam2 sekitar hampir jam 10, saya dan temen2 nekat saja menjajal MRT dengan stasiun awal di Blok M BCA menuju Lebak Bulus (stasiun terakhir). Harga kartu single trip berkisar 7k-8k (jaminan 15k) bisa dibeli/ direfund pada loket stasiun utama, kartu berlaku untuk penggunaan satu minggu. Selain kartu tap dari stasiun MRT, juga bisa memakai kartu lainnya seperti Jakcard, E-money, Tapcash dan Flazz atau Brizzi.

Stasiun MRT M- BCA
Inside MRT
















Karena sudah larut, jadi kami bebas berfoto ria dilorong dalam MRT yang kosong, hihi.. overall menurut saya MRT di Indonesia hampir sama dengan MRT/kereta cepat dinegara2 lain, hanya mungkin jika ditambah beberapa fasilitas akan lebih baik. Misal, saat di Jepang, pada musim tertentu (spring/winter) baik pagi atau malam hari pemanas didalam MRT tetap dinyalakan jadi penumpang akan merasa lebih hangat saat berada didalam kereta. Lain pula ketika di Bangkok, nyebutnya Skytrain BTS (Bangkok Transit System), karena berada di area terbuka (meliputi titik pusat kota), jadi suasananya tuh lebih ramai, lebih banyak papan iklan berseliweran juga banyak pop up store/kedai camilan/ minuman, ATM, Money charger, bahkan toko kosmetik pun ada di kawasan depan stasiun, tentu itu sangat memanjakan penumpang yang lewat sembari menunggu kereta tiba.     
Terakhir, dari Jakarta menuju ke Bandara Tangerang Soehatt saya menggunakan Railink (KA Bandara)  yang berada di Stasiun KA Bandara Sudirman Baru (BNI City). Untuk memesan tiket bisa datang langsung ke stasiun atau via website resmi Railink atau aplikasi perjalanan umum (traveloka/tiket.com). Harga tiket mulai dari 70k/ person. Jangan lupa untuk yang beli online harus tiba ke stasiun minimal 30 menit sebelum jadwal keberangkatan untuk penukaran voucher/ kode pemesanan.
Pertama masuk ke stasiun baru ini, kesannya wah sekali, layaknya di Bandara, hehe.. masih mulus, bersih dan semarak. Sayangnya hal ini tidak sebanding dengan jumlah pengunjung/penumpangnnya, terkesan lebih sepi daripada pengguna Bus DAMRI. Hm masih minimnya peminat Railink ini entah karena faktor harga tiket yang agak mahal atau memang dipikir masih belum efisien jalur pengangkutannya. Padahal kalau naik kereta ini jauh lebih hemat waktu lho jika hendak langsung ke Bandara. Tapi saya yakin sih, seiring berjalannya waktu Railink pasti akan lebih dilirik penumpang jika ada peningkatan fasilitas dan akses stasiunnya diperbanyak.
Railink: stasiun BNI - Bandara
Gak kerasa 50 menit berlalu dan saya akhirnya tiba di Bandara, menyambung Railink saya langsung naik Skytrain menuju Terminal keberangkatan 1B.  
Well, sekian cuap-cuap blog hari ini, semoga bermanfaat, bisa memberikan informasi serta bayangan awal bagi kalian yang hendak mencoba MRT atau Railink. Ciao Jakarta, Salam Traveler!

Sabtu, 21 September 2019

Memahami Diri Sendiri, Learning Yourself.

Beberapa tahun ini, menjelang akhir masa usia 20-an hingga memasuki 30-an, saya akhirnya mulai banyak memahami diri sendiri. Sudah mulai belajar untuk mencoba memaafkan dan mencintai diri sendiri sepenuhnya. Sudah mulai mencoba selalu berdekatan dengan pemilik sesungguhnya Empunya diri. Sudah mulai agak santai dalam menjalani kehidupan, tidak tergesa, tidak terburu dan tidak memaksakan diri seperti dulu.
Saya kembali berpikir, apa yang membuat saya menjadi demikian? Dan sebenernya sudah sejauh mana sih saya melangkah? apa yang sudah saya lakukan untuk diri sendiri atau orang lain? Apa yang menjadi tujuan inti hidup saya? Lantas, bagaimana saya bisa mencapainya? Kemudian, apakah sudah tercapai sekarang, saat ini?

Kita flashback sebentar ke usia emas saya, usia paling produktif, masa yang paling bergairah dan bergelora sepanjang hidup.. Masa perkuliahan, dimana masa ini merupakan masa2 peralihan jiwa yang labil dan polos, menjadi jiwa pemberontak dan mulai suka mencoba hal2 baru, masa explorasi mental yang paling indah, menurut saya. Okey, jadi, sewaktu akhir semester, saya mulai menuliskan satu persatu hal2 atau tujuan yang ingin saya dapatkan. Saya membaginya pada beberapa aspek, mulai dari capaian prestasi akademik, karir pekerjaan, hoby, kehidupan rumah tangga, hingga improvement aspek agama/beribadah. Well, semuanya tertulis jelas di lembar kertas itu, mungkin ada ratusan poin-poin detailnya. Pada saat itu, saya ngerasa bangga, dan saya yakin dengan kemampuan saya bahwa saya akan bisa memenuhi semua yang saya tuliskan itu, meski saya tahu saya harus extra kerja keras dan tetap berkomitmen untuk mewujudkannya apapun yang terjadi.
But, as you know, life is never flat. Menilik lagi lembar tersebut, 10 tahun kemudian, pada detik ini, saya hanya bisa tersenyum kecil. Beberapa terpenuhi, banyaknya tidak, he, saya merasakan hasrat hidup saya waktu itu sepertinya tinggi sekali, hingga saya berani menulis hal tersebut, yang mana, jika dibanding dengan hasrat hidup saya sekarang mungkin hanya 1/3 nya saja,..aneh ya..
Hm, kenapa bisa menurun? Saya juga tidak tahu persis penyebabnya. Apakah karena faktor usia atau faktor2 lain semasa perjalanan hidup 10 tahun ini yang kemudian merubah pandangan dan prioritas saya. Dan saya yakin, setiap orang dewasa pun  juga pasti pernah mengalami hal yang sama. Saya terkadang iri dengan orang yang tetap terus berusaha mewujudkan impiannya. Mereka sungguh keren, sangat persisten dengan apa yang menjadi tujuannya, determined istilah bahasa inggris nya. Tetapi kemudian, saya berpikir lagi, jika saya hanya memikirkan keinginan sendiri, lantas bagaimana dengan orang2 yang ada disekitar saya, my first cycle? That’s another question.

Tentu, semua kejadian pasti ada hikmahnya. Saya tidak akan menjadi orang yang seperti saya sekarang jika saya tidak melewati semua kejadian dimasa lalu. Baik itu fisik maupun mental, saya sudah berevolusi, dan mungkin pun akan terus berkelanjutan. Pengalaman indah dan buruk, menjadikan saya sudah lebih baik dan cukup kuat hingga saat ini. Saya hanya akan terus berjalan, dan jika lelah datang, maka saya akan beristrahat sebentar, tetapi saya tidak akan berhenti, hingga nanti akan sampai pada sebenar-benarnya tujuan hidup diciptakan.

Sei Puting, 22 Muharram 1441 H

Rabu, 28 Agustus 2019

Menutup Kartu Kredit (28/08/2019)


27 Djulhijjah 1440 H
Setelah sekian lama saya menggunakan kartu yang penuh dengan godaan dunia ini..akhirnya saya memberanikan diri untuk menutup kartu sakti yang saya miliki. Dengan menetapkan hati agar tidak lagi terjerumus dengan pesona riba dan cicilan 0%, juga menghindari penumpukan hutang yang nantinya tidak bisa terbayarkan maka saya pun sudah membuat tekad kuat.
Tidak terlalu berat sebenarnya, hanya saja kita harus menyiapkan niat yang kuat dan benar, Karena Allah semata. Karena ingin bertakwa kepada Allah dengan menghindari dan menjauhi segala laranganNya. Termasuk berbelanja menggunakan Kartu Kredit, yang mana rentan sekali akan adanya Riba dan bukan merupakan transaksi yang dihalalkan Allah. Insya Allah, jalan atau cara atau usaha yang akan kita tempuh untuk melakukan hal tersebut pun akan diberi kemudahan oleh Allah. Entah itu dapat dari pinjaman teman atau dari rejeki lain yang tidak disangka-sangka.
Jadi untuk semua kawanku, jangan ragu dari sekarang coba segera tutup Kartu Kredit yang kalian miliki dan cobalah untuk menginvestasikan harta yang kalian miliki kepada investasi akhirat alih2 investasi lainnya, perbanyak sedekah dan infaq, zakat dikeluarkan dan banyak2 membantu kerabat keluarga yang membutuhkan. Jangan takut, Allah pasti akan memberikan yang lebih banyak dan lebih berkah tentunya. Menabung atau menyimpan harta untuk keperluan masa depan itu baik tapi berinvestasi kepada akhirat itu jauh lebih baik. Budayakan sikap sederhana dan bersahaja.
Mudah-mudahan Allah selalu menjaga kita dari perbuatan maksiat dan dari hutang yang melilit. Aamiin.

One Day Trip Nara

Kali ini cerita tentang Nara City, kota kecil cantik di area Kansai yang bisa dijelajahi satu hari dari Osaka atau Kyoto. Kota yang menjad...